Rumput Laut Anjlok, Ini Strategi Menteri Susi


INILAHCOM, Jakarta - Budidaya rumput laut dinilai bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir. Sayangnya, kini, harga rumput laut terus melorot.

Untuk mengatasi hal ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong agar asosiasi rumput laut meningkatkan serapan stok rumput laut yang dimiliki pembudidaya di Indonesia.

Dalam rilis yang diterima INILAHCOM, Jumat (9/10/2015), penurunan harga rumput laut terjadi pada jenis gracilaria, akibat banjirnya persediaan di banding permintaan pasar.

Pihak Asosiasi Pembudidaya Rumput Laut Indonesia (ASPERLI) menyanggupi penyerapan kelebihan produksi rumput laut baik jenis Gracilaria maupun Cottonii. Untuk jenis Gracilaria berkadar air 16–18%, harga patokan Rp 6.000 per kg, sedangkan Gracilaria berkadar air 16–18% dibanderol Rp 8.000 per kg.

Kata Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, iklim tropis membuat Indonesia menjadi lahan subur bagi berkembangnya 555 jenis rumput laut. Saat ini, Indonesia menguasai lebih dari 50% pasar rumput dunia. Produk rumput laut unggulannya adalah Eucheuma cottonii, Eucheuma spinosum dan Glacillaria sp.

Data Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (ASTRULI) menyebutkan, kebutuhan gracilaria dunia mencapai 550 ribu ton per tahun. Sementara, data Ditjen Perikanan Budidaya tahun 2014 menyebutkan, potensi lahan rumput laut seluas 12,1 juta hektar. Namun baru dimanfaatkan 2,68%, atau 352.825,12 hektar. Pada 2013, produksi rumput laut (basah) mencapai 9,2 juta ton, selanjutnya naik menkadi 10,2 juta ton pada 2014.

Kata Menteri Susi, volume ekspor rumput laut Indonesia pada 2013 sebesar 181.924 ton, setara US$ 209,7 juta. Setahun kemudian naik menjadi 206.452 ton, setara dengan US$ 279,54 juta. "Ini data dari Ditjen Penguatan Daya Saing tahun 2014," papar menteri perempuan asal Pangandaran ini.

Artinya, kata Susi, usaha budidaya rumput laut memberikan kontribusi nyata pada peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah pesisir, seluruh Indonesia. Dan, budidaya rumput laut tak perlu modal besar, perawatannya cukup sederhana.

"Budidaya rumput laut boleh dikatakan free of maintainance, kita tidak perlu kasih makan rumput laut yang kita tanam. Saya pikir, ini adalah cara yang tepat dan cepat untuk meningkatkan kesejahteraan saudara-saudara kita di pesisir pantai, termasuk daerah perbatasan," papar Susi.

Selain mendorong asosiasi meningkatkan serapan rumput laut, KKP akan memanfaatkan sistem resi gudang (SRG) milik Kementerian Perdagangan (Kemendag).

Cara ini, diyakini bisa menjadi intrumen penyangga harga produk rumput laut masyarakat. Implementasi SRG akan membantu serapan rumput laut hasil budidaya. Dalam waktu dekat, SRG untuk rumput laut akan dimulai di Makasar.

Selanjutnya, kata Menteri Susi, KKP akan mengatur ekspor rumput laut sesuai pasokan dan kebutuhan pasar dunia. Roadmap dan tata niaga rumput laut yang menyertakan stakeholder rumput laut dari hulu sampai hilir, bakal di bahas.

"Kita juga akan lakukan sosialisasi dan promosi rumput laut menjadi menu sehari-hari. Sehinga industri makanan berbahan baku rumput laut semakin berkembang. Serapan di dalam negeri naik," papar Susi. [ipe]



Read More : Rumput Laut Anjlok, Ini Strategi Menteri Susi.



0 komentar:

Posting Komentar